Sejarah Perhatian Orientalis Barat Terhadap Ulumul Qur’an

Ulumul Qur’an yang ada hubungannya mengenai pandangan dan perkembangan :

A. Al-Qur’an di matabarat: sebuahstudi evaluative.

Topik tersebut sayaa nggap penting karena kalangan Islamolog barat dewasa ini mengembangkan studi islam dalam bidang Qurqnik Studies di berbagai Universitas di Eropa Barat danAmerika. Perhatian dan kecenderungan Islamog Barat dalam studi Al-Qur’an perlu di identivikasi baik dalam konsep substansialnya ataupun dari metodologinya.

Penelitian sarjana muslim terhadap penelitian barat tentang Al-Qur’an pada umumnya berkisar pada konsep substansialnya, sementara penelitian mengenai metodologi yang mereka gunakan Islamog barat dalam studi Islam, khususnya studi Al-Qur’an, kita lebih bersikap kepala dingin dan lebih mengembangkan dialog yang sehat, terhindar dari sikap emosional.

 

Terlepas dari apakah islamog barat dalam analisis mereka, bias memihak reduksionis dan apologis, tetap saja identivikasi metodologi yang mereka gunakan dalam studi mengenai eksitensi Al-Qur’an akan bisa di dudukan sifat analisis mereka itu dalam pola piker tertentu, baik yang bersandar pada pandangan teologis maupun filosofis.

Di samping itu, dengan mengidentivikasi metodologi yang mereka gunakan dapat di pahami strutur logika internal dari suatu metode pendekatan yang mengharuskan timbulnya sesuatu konklusi. Konklusi tersebut dapat sesuai dengan ajaran Islam atau tidak, tetapi dapat di ketahui penyebab sesuatu dengan ajaran islam atau tidak, tetapi dapat di ketahui penyebablahirnya sebuah konklusi menurut corak metodologinya.

Tulisan itu berangkatdari suatu masalah, bagaimana cara pandang masyarakat barat terhadap eksitensi Al-Qur’an sehinga menghasilkan konklusi yang sering kali berbeda atau bertentangan dengan keyakinan umat islam.,bahkan sering bersifat apologis. Tulisan ini juga bermaksud mengidentifikasi tiga metode pendekatan yang di gunakan sarjana barat dalam studi mereka tentang eksitensi Al-Qur’an, yaitu:

1. Pendekatan historisme

2. Pendekatan fenomenologi

3. Pendekatan historisme-fenomenologi

Ada banyak contoh mengenai metode pendekatan tersebut tapi di sini penulisan hanya akan mengemukakan secara singkat satu atau dua di antaranya evaluasi yang sifatnya bukan pokok saya tempatkan pada bagian akhir deskripsi, sedangkan evaluasi sentral kami bahas tersendiri pada bagian lain.

 

Metodologi pendekatan barat dalam studi Al-Qur’a

Pendekatan historis

Historis muncul pada abad ke Sembilan belas.Tokoh utamanya adalah Leopold von Ranke(1795-1886), seorang sejarawan terkemuka di Jerman. Historis memunculkan berbarengan dengan munculnya teori Evolusi Charles Darwin(1809-1882). Historisme memberikan era baru, semacam revolusi Copenicus dalam tradisi ilmiah barat di abadke Sembilan belas sampai perempast pertama abad kedua puluh ,meskipunsampai sekarang masih terdapat jumlah sarjana. Barang menerapkan perspektif historisme dalam tulisan mereka.,

Historisme berpandangan bahwa suatu entitas baik itu entuitisi, nillai-nilai maupun agama berasal dari lingkungan fisik, sosio cultural dan sosio religious tempat entitas itu muncul. Penjelasan mengenai suatu entika sesudah cukup mengenai suatu entitas sudah cukup melalui penemuan asal usul nya mengenai dan hakikat mengenai sesuatu seluruhnya dipahami dalam perkembangannya. Prinsip historis memenurut mienieke adalah mencari kausalitas peristiwa historis, dalam kausalitas itu tidak berasal dari dunia metavisika atau trans-historis tetapi dari lingkungan epiriksensual.

Munculnya historis menurut func-frankfurt mendorong kecenderungan dalam studi Al-Qur’an di barat yang mengasalkan Al-Qur’an dan islam dari kitab suci dan tradisi Yahudi dan Kristen.

Sarjana barat yang mengunakan metode pendekatan historisme dalam studi Al-Qur’an, di antaranya adalah Maxime Rodinson, tor Andrae , A jeveery, K Luke, Wiliam Muir, J. B Mac Donald, A. Guillaume . dsb. Tulisan ini akan mengemumukan dua di antaranya ,yaitu J. Wansbrought yang mengsalkan Al-Qur’an dari tradisi yahudi dan perjanjian lama dan Richard Bell yang mengasalkan Al-Qur’an dari kita bsuc Kristen.

Pandangan Wansbroughter dapat dalam bukunya ,QuranicSudiessoukres and Methods of Skriptual Interpretation(1977), menurut Wansbrought, Al-Qur’an belum di tetapkan secara definitive sebelum permulaan abad ke 3H/9M , riwayat-riwayan yang menetapkan mushap Utsmani sebagai Mushap resmi terlalu dibuat-buat. Ajaran tentang kemu’jijatan Al-Qur’an di pandangan sebagai imitasi dari tradisi yahudi tentang taurat Musa, sehingga kumpulan ucapan (logia) dalam Al-Qur’an dinaikan derajatnya menjadi kitab suci yang mutlak kebenarannya.

Menurut J. Wansbrough, ucapan Muhammad sendiri amat rendah derajatnya, karena meskipun Al-Qur’an menyebut Muhammad sebagai nabi, tetapi lebih rendah dari nabi-nabilainnya. Al-Qur’an mengemukakan nabi lain yang tidak dimiliki oleh Muhammad, misalnya adah menerima beberapa kalimat (QS al-baqarah: 37) tuhan mengajarkan kepada nama-nama benda, dsb.

Wansbrough dalam karyanya itu tidak memberikan indikasi empiris tentang bagaimana sahabat dan tabi’in menokohkan Muhammad sebagai rosul dan bagaimana mereka mengangkat derajat Al-Qur’an seperti firman tuhan seperti taurot.Dalam pengamatan penulis, karya Wansbrough itu baru merupakan studi asumtif atau paling tinggi seperi di jelaskan oleh issa J.boulatta, baru meupakan hipotesis, belum merupakan tesis yang dapat di pertanggungjawabkan secara ilmiah. W. Montgoery Watt menjelaskan bahwa meskipun karya Wansbrough itu memperlihatkan keilmiahanya tinggi tetapi hal itu di dasarkan atas asumsi yang meragukan.

Dalam statementnya yang penting , Wansbroough sering mengatakan kata-kata bias (memihak) tapa didukung oleh bukti empiris yang jelas, misalnya I penggunakan kata allege ketika menolak mushaf usmani sebagai standar devinitip Al-qur’an dan menggunakan like lihood dalam pandangan bahwa hadits yang menjelaskan kewahyuan Al-Qur’an “kemungkinan” di samakandenganucapanrabiYahudi yang menjelaskan kitab taurot sebagai firman tuhan ia menggunakan kata possibly ketika menjalankan “kemungkinan” Muhammad meniru dan memodivikasi Al-Qur’an yang ersu berdai polemic yahudi-muslim(“…possibly adopted and modified in thr course of jundeo muslim polemic…..”)

Wansbrough yang berkecimpung di bidang biblical cristicims (studi Kristen bible) menerapkan nya untuk mengkritik Al-Qur’an

Dia mengkritik keotentkan bible perjanjian lama yang ditulis Sembilan abad setelah di turunkan melalui tradisi lisan, Wansbrough mengundurkan waktu selama tiga puluh tahun kodivikasi vinal Al-Qur’an untuk bias menerapkan metode krititik bible, dalam kritik bible di teliti riwayat-riwayat duplikat, interpolasi dan pengurangan konsistensi sastra dan riwayat yang di anggap palsu.

Selanjutnya dijelaskan pendapat Richard Bell yang mewakili pendapat yang menasalkan Al-Qur’an dari ajaran Kristen. Pengurus Kristen menurut bell belum terjadi pada pase akhir Mekah dan awal Madinah, bell menunjukan salah satu indikasi yaitu surah Al-ikhlas. Menurut bell surat tersebut bukan merupakan hasil polemic antara Muhammad dengan oranng kristen, tetapi terhadap orang musyrik yang mempunyai kepercayaan bahwa Allah memilki tiga anak perempuan (al-lata, al-uzzadan al-manat) QS:Al-Alaq 1-5 yang menjelaskan penciptaan manusia dari seggumpal darah juga bukan konsep yang diambil dari bible, karena dalam bible bahwa manusia berasal dari tanah, ayat-ayat yang muncul kemudian yang menyatakan manusia berasal dari tanah di ambil dari bible, pada pase berikutnya terasa ada perasaan antara kisah Al-Qur’an dan kisah bible. Kisah tentang penolakan penyaliban yesus, misalnya di abil dari salah satu kriten di Syiria.

Bell berpendapat bahwa wahyu yang di alami nabi muahammad merupakan peristiwa natural bukan peristiwa supernatural. Pengetahuan tentang agama kristen di aktualakan sebagai wahyu melalui trance-medium (keadaan tak sadar diri) dalam suasana mistik seperti kkehidupan para dukun(kahim).

Bell mengartiakn wahyu dengan sugesti yang akan muncul sebagai kiasan inspirasi (the flash of inspiration) bagi bell sugesti terjadi secara natural, menurut bell wahyu yang di alami muhammad merupakan peristiwa yang mengagumkan dan penuh misteri. Peristia misteri menurut bell masih natural tetapi beberapa interpretasi muncul terhadap pernyataan bell itu. Vahidudin berpendapat bahwa peristiwa misteri menurut pengalaman bell adalah sudah tergolong peristiwa natural, demikian pula Nizamat jung berpendapat bahwa keuatan misterius merupakan penomenal kewahyuan dan peristwa sanngat luar biasa. Bell memandang bahwa peristiwa misterius dan mengagumkan itu masih terjadi dalam lingkup natural. Tetapi ada pernyataan bell bahwa dalam proses terjadinya wahyu muhammad benar-benar melihat malaikat jibril, sepeti dalam pemahaman terhadap Qs. At-Takwir:23, bell menyatakan:

“ Reaserted in surah 81 that he had seen the mesenger on the clear horzon,as i thing and to himindikation that something of the sort had alredy happened”

(di tegaskan kembali dalam surah At-Takwir bahwa ia muhammad melihat malaikat di cakrawala yang jernih saya pandang bahwa indikasi yang terjadi benar-benar terjadi pada dirinya)

Penjelasan bell tersebut di atas dapat di simpulkan bahwa meskipun dia semula benar-benar mereduksi wahyu sebagai fenomena natural tetapi kontradiksi terjadi bahwa pernytaan nabi melihat jibril dalam peristiwa wahyu.

 

Pendekatan Fenomenologi

Istilah fenomenologi berasal dar bahasa Yunani, phanestai yang berarti “menunjukan dan menampakan dirinya sendiri” sebelum huserl istlah tersebut telah di pergunakan sejumlah fillosofis.

Husserl menggunakan istilah fenomenologi untuk menunjukan apa yang tampak dalam kesadaran kita dengan membiarkan termanivestasi apaadanya tanpa memasukan kategori pikiran kita kepadanya, atau menurut ungkapan husserl zurueck den sachen selbst (kembali kepada realitas iyu sendiri). Fenomenologi husserl bertujuan mencari esensi fenomena, dalam mencari esensi bermula dari membiarkan fenomena itu termanifestasi apa adanya tanpa di barengi prasangka.

Bila di terapkan dalam studi agama berarti membiarkan agama itu berbicara dibarengi untuk menciptakan sebuah agama, di pahami menurut apa yang di pahami atau di yakini oleh penganutnya, bijlefeld berpendapat bahwa al-Qur’an yang sebenarnya bukan yang di temukan oleh sarjana barat akan tetapi Al-Qur’an adalah apa yang kita ketahui melalui masyarakat islam..

Pendekatan menologi tidak melacak asal-usul suatu institusi, tetapi dengan mengidentivikasi stuktur internalnya.

Pendekatan fenomenologi dalam studi Al-Qur’an misalnya dilakukan oleh charles J adam, wiliam graham dll. Tulisan ini hanya mengemukakan dua di antaranya yaitu Roest crolius dan Marsel A Boisan. Crolius menggunakan pendekatan fenomenologi dalam analisis filologis. Menurut Crolius fenomena kewahyuan tidak hanya di tunjukdengan kata wahyu itu sendiri(dalam berbagai bentuk perubahan katanya) tetapi juga terdapat bentuk kata lain yang berbentuk inklusip mengandung makna wahyu dan kerosulan terhadap tiga kelompok kata:

 

1. The word of address

Crollius mengidentivikasi kata qala dan qaul, kata tersebut menunjukan pewahyuan bahwa bila pelakunya adalah Allah.

2. The word of mission di dalamnya di identivikasi kata kalam dan kalimat, kata tersebut bisa di artikan dengan perkataan, ketetapan, hukum tauhid. Tetapi Crolius memaknai sebagai wahyu dan kerasulan bila pewahyunya adalah Allah.

3. The word of order yang di dalamnyadi identivikasi kata amara dan derivatnya, misalnya perintah nabi ibrahim untuk menyembelih putranya.

Pendapat crolius yang unik adalah pada poin ke dua di atas karena tidak mengartikan kalimat untuk nabi isa dengan kalam tuhan atau logos tetapi merupakan tanda kerosulan instrumen wahyu.

Marsel A Boisard tidak melihat sisi vormal al-Qur’an sebagai firman allah, tetai sisi substansinya. Boisard memandang nabi muhammad sebagai nabi yang sesungguhnya, muhammad hanya sekedar penyambung lidah wahyu yang abadi. Boisard sebagai ahli hukum internasional memandang Al-Qur’an sebagai moral internasional yang prinsip keadilan dan persaudaraan. Dia membedakan prinsip hukum islam dengan prinsip hukum barat. Dalam pemikairan barat mencari hubungan antara hukum dan iman merupakan sistem primitiv. Akan tetapi ajaran islam tidak memisahkan antara hukum dan kewajiban moral. Karena itu Boisard memandang al-Qur’an berikan tentang kebenaran.yuniversal dan bukan buatan manusia(muhammad)tetapi merupakan wahyu tuhan.

 

Pendekatan historisme dan fenomenologi

Pendekatan ini menggabungkan antara dua pendekatan sebelumnya. Pendekatan ini oleh W Montgomery Watt di lihat sebagai kegandaan sumber wahyu Al-Qur’an yaitu tuhan non historis dan nabi muhammad sumber manusia/historis. Wahyu Al-Qur’an sebagai bersumber dari tuhan tetapi di produksi melalui pribadi nabi muhammad dalamkonteks sosio-religious yahudi dan Kristen.

Watt di stu sisi tidak mau menolak keyakinan islam yang fundamental sebagaimana pertanyaannya”i have tried to speak so as not to deny any fundamental islamk bealif, ” tetapi di sisilain, ia menerapkan pendekatan historisme yang bertentangan dengan keyakinan dasar islam.

Sintesis yang dilakukan oleh Watt tentang sumb er wahyu dengan merujuk pada teori alam bawah sadar kolektif (collective unconsciousness) dari C. G Jung. Alam bawah sadar adlah tumpukan-tumpukan pengalaman masa lalu yang mengkristal, semakikn lama semakin manjadi universal kemjdian melebur ke dalam mental dan materialitas tubuh. Dalam alam bawah sadar kolektif muncul ide-ide keagamaan, oleh Watt dimanai sebagai wahyu.

Dalam hal tersebut, Watt memungkinkan terjadinya kekeliruan dalam Al-Qur’an adalah “ajaran” (lesson, teaching)-nya, materinya diambil nabi Muhammad dari lingkuangnnya. Indikasi yang ditunukkan oleh Watt adlah mengenai penolakan penyaliban Yesus ( Nabi Isa) dalam Al-Qur’an (QS. An-Nisa’: 157). Ajaran (lesson) yang terdapat dlam penolakan itu adalah “Allah selalu melindungi rasul-Nya, dan rosul selalu menang dalam perjuangannya. “ kemudian Nabi muhammad mengambil materi dari lingkungannya, yaitu dari sekte Kristen Syria adalah salah satu sekte yang keliru, maka materi ayat tersebut keliru, sebab justru dengan kematian Yesus di tiang salib, maka kelak akan di bangkitkan untuk mengadili manusia dan mendorong kebangkitan gereja. Menurut Watt, esensi yang terkandung dalam penolakan penyalibanYesus sama dengan esensi ajaran Kristen, yaitu “ Kemenangan” bagi Yesus, tetapi materinya kontrtadiktif.

Watt berkesimpulan bahwa dengan keterlibatan Nabi Muhammad dalam sunstansi wahyu, maka bias terjadi kekeliruan dalam Al-Qur’an. Bila kekeliruan seperti penolakan penyaliban Yesus dihilangkan, maka Islam dan Kristen bias bersatu.

Beberapa catatan terhadap pendapat Watt, adalah:

(a) Interpretasia Watt tersebut diatas apologis, karena menyalahkan Nabi Muhammad untuk mendukung teologi Kristen (bias Kristen), dan

(b) Watt tidak melihat bahwa justru Al-Qur’an membenarkan sekte Kristen Syria dalam hal penolakan penyaliban Nabi Isa dan menyalahkan Kristen versi Paulus.

Fazlur Rahman, seorang cendikiawan Muslim juga berpendapat bahwa Al-Qur’an adalah firman Tuhan dalam dalam arti kata biasa dan juga seluruhnya adalah perkataan Muhammad. Pendapat tersebut sepintas lalu identik dengan pendapat Watt di atas, tetapi bila di lihat lebih jauh terdapat perbedaan yang prinsipil.

Menurut Fazlur Rahman, Nabi Muhammad adalah seorang yang seluruh prilakunya jauh lebih unggul dari manusia lainnya, ia kebal terhadap kesalahan-kesalahan yang serius, karena itu selurh perilakunya adalah sunah suatu model sempurna untuk dicontoh. Ada saat-saat dimana Nabi mengalmi suasana yang khas “ melampaui dirinya sendiri” dan persepsi moralnya demikian kukuh sendiri. Disaat seperti itu ia mengalami wahyu. Jadi, ketika persepsi moral nabi mencapai puncak tertinggi, identik dengan hukum moral itu sendiri, maka kalam diberikan dan kalam itu berkaitan erat dengan kepribadian Muhammad. Kalam tersebut turunke dalam hati nabi dimana terjadi proses integral sehingga juga “menjadi kata-kata Nabi”.

Fazlur Rahman tetap mengakui wahyu verbal, berbeda dengan pendapat Watt yang hanya mengakui secara makna. Perbedaan yang jauh lagi adalah Fazlur Rahman tidak menganggap Nabi bias keliru. Dengan interpretasi psikoanalisi, Watt memeandang Tuhan iman dalam diri Nabi. Bagi Fazlur Rahman Tuhan tetap transenden karena wahyu “ turun” ke dalam hati Nabi.

Evaluasi Historis

Sarjana Barat yan gmenggunakan pendekatan historisme memandang agama Yahudi dan Kristen sebagai lingkunang sosioreligius Nabi Muhammad, darinya Nabi Muhammad mendapatnkan informasi tentang kitab suci kedua agama itu.

Sejarah mengakui berkambangnya kedua agama itu di jaziarah Arab, agama Kristen di Syria, dan beberapa kabilah Yahudi di Madinah. Di Mekah dan sekitarnya, kedua agama itu hanya dianut oleh kalangan tertentu, tidak dalam bentuk kabilah dan jumlahnya amat sedikit. Agama Yahudi di bawa oleh orang Yahudi yang hijrah ke negeri Arab akibat tekanan perang pada abad kesatu masehi, dan agama Kristen dibawa oleh seorang Nabatean pada apada abad ketiga Masehi. Menurut Philip K Hitti, meskipun kedua agama itu masuk ke jazirah Arab tetapi tidak member kesan dalam pikiran orang Hijaz ( Mekah dan sekitarnya) kecuali orang-orang tertentu.

Fuck Frankfurt menolak sama sekali agama Yahudi dan Kristen menajdi basis Al-Qur’an. Sebab, agama Yahudi sangan menolak keberadaan Yesus dan Maryam. Sementara Al-Qur’an mengangungkan Nabi Isa sebagai rasul dan tahap yang tinggi (termasuk ulilazmi) serta kelahirannya dari seorang wanita (Maryam). Sementara itu agama Kristen mempertuhankan Nabi Isa dan percaya pada penyalibannya, suatu doktrin yang amat ditolak dalam Al-Qur’an.

A.T Welch berpendapat bahwa Muhammad berusaha memperlajari Bibel dengan mencari naskah Bibel yang asli yang di sembunyika oleh orang Yahudi. Welch mendasarkan alas an pada surah al-Na’am:91, diantaranya berbunyi. kamu jadikan lembaran itu kertas yang bercarai berai kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyiak nsebagaimanannya. Maksud ayat ini adalah orang orang Yahudi menyembunyikan ayat Bibel yang menjelaskan kebentarn Islam dan Muhammad. Teteapi Welch memahami bahwa Muhammad mendari naskah Bibel yang disembunyikan orang Yahudi untuk ditiru.

Menurut Canon Sell, tidak mungkin Muhammad mencari dan meniru naskah Bibel Karen Bibel Perjanjian Lama baru diterjemahakan ke dalam bahasa Arab tahun 900 M, dan perjanjian Baru diterjemahkan tahun 1771 M, serta tidak ada bukti sejarahMuhammad pandai bahasa Ibrani. Karena itu, tidak ada bukti sejarah yang kuat menggambarkan nabi Muhammad menjadikan Bibel sebagai landasan Al-Qur’an.

 

Evaluasi Metodologis

Pendekatan historisme dalam studi Al-Qur’an tidak akan menghasilkan konklusi yang positif dalam pandangan Islam. Karena historisme melakukan eksplanasi terhadap objek penyeliadikkannya. Eksplanasi dilakukan sebagai pihak outsider (pihak luar). Akibat negative dari posisi sebagi outsider menurut Hall: “ The danger of the position of being ‘ outsedier’ is that the daa of being studied can easily reduced to fit methodological categories”. ( Bahaya dari posisi sebagai pihak ‘outsider’ adalah data yang diteliti dengan mudah direduksi untuk mencocokan dengan kategori-kategori metodologi). Karena itu, pendekatan historisme dalam studi Al-Qur’an bersifat reduksionis. Menurut Roystes bila historisme ingin mencari akar sebuah institusi, ia menolak hal-hal yang fundamental dan berusaha memperluas dasar teoritisnya, tetapi akibatnya menampilakan hasil yang kurang ilmiah. Menurut Maryam Jamilah kesalahan yang paling besar di masa modern adlah reduksionisme, dimana hal yang besar dijelaskan dalam taraf yang sangat kecil, dan hal yang tinggi dijelaskan delam taraf ayng sangat rendah. Wahyu yang bersifat supernatural dejelaskan sebagai fenomena natural.

Dalam studi mengenai eksistensi Al-Qur’an, kami manawarkan pendekatan realisme metafisik dari Karl R Ropper. Realisme metafisik memandang ada kebenaran di alam semesta yang bersifat realitas metafisik yuang otonom, objektif,dan tunggal. Kebenaran tersebut sebagai keterangan terhadap dunia fisik dan empiric sensual, tetapi bersifat otonom dan objektif karena membentuk dunia tersendiri.

Realitas metafisik dalam pemaknaan kami adalah kebentarn yang dibentangkan oleh Allah di alam semesta, dalam istilah Qur’ani desebut ayat qawniyyah, ditelaah oleh manusia sehingga menimbulkan ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Karena realitas metafisik itu dapat di jankau oleh manusia, berarti masih tergolong dinia intransenden. Pencarian kebenaran kebenaran ralitas mentafisik itu deserahkan pada otoritas manusia. Tetapi karena otoritas manusia membentuk tatanan dunia. Maka Allah SWT dengan otoritas dan kebijakan-Nya menurunkan lagi satu jenis kebenaran, yaitu kebenaran trans-metafisik berupa ayat-ayat qawliyyah dalam bentuk wahyu kitab suci agama-agama samawi. Realism metafisik jelas menolak pendekatan historisme.

Pendekatan fenomenologi dipandang positif dalam studi agama khususnya Al-Qur’an karena fenomenologi tidak mengabaikan realitas transenden. Karena itu, Fazlur Rahman mengatakan : I welcome the phenomenological approach with the provision the its users recognize the Quran and Sunnah as normative criterion-referents for all expressions and understandings of Islam.”. (saya menyambut baik pendekatan fenomenologi dengan ketentuan bahwa para pmakainya mengakui Al-Qur’an dan sunah sebagi kreteria rujukan normative untuk semua pernyataan dan pemahaman mengenai Islam).

Kelamahan fenomenologi bila diterapkan dalam studi agama dan kitab suci karena fenomenologi bersifat regional dan kontekstual. Akibatnya fenomoenologi akan mengakui kebentan masing-masing agama dan kitab suci yang diteliti. Fenomenologi mengidentifikasikan munculnya pluralism agama.

Realism metafisik memandang kebenaran itu tunggal, sehingga dapat dimaknai bahwa kitab suci agama samawi yang bersumber dari Allah pada hakikatnya mengandng kebenaran tunggal, intinya adalah tauhid dan ketaatan manusian kepa-Nya adalah Muslim. Perbedaan kitab-kitab suci itu hanya dari segi syariatnya yang disesuainkan denan kondisi masyarakatnya, dan Al-Qur’an sebagai kitab suci sebelumnya suci samawi yang terakhir adalah kesempurnaan dari kitab suci sebelumnya.

 

Kesimpulan

Dari urutan diatas, dapat disimpulkan sebagia berikut:

1. Pendekatan historisme dan historisme-fenomenologi dalam studi mengenai eksistensi Al-Qur’an tidak menghasilkan konklusi yang positif karena melakukan reuksi-reduksi, yaitu:

1) Pendekatan historisme melakukan redudsi naturalistic, dimana wahyu dianalisis sebagia fenomena natural.

2) Pendekatan historisisme-fenomenologis melakukan reduksi psikologis dimana wahyu Al-Qur’an di naggap produk psikis bawah sadar. Watt melihat alam bawah sadar sebagi tempat pertemuan kreasi manusia dengan inspirasi dari Tuhan. Perspektif ini berada dalam posisi sulit, karena sulit memisahkan antara sumber manusiawi dan sumber ketuhanan. Watt lalu apologis ketik mengakatakan bahwa yang berasl dari Muhammad memungkinkan terdapat kekeliruan untuk teologi Kristen.

3) Reduksi dalam konteks Yahudi dan Kristen, yaitu menasalkan Al-Qu’an dari tradisi Yahudi dan Kristen. Pandangan ini bertujuan mensubordinasikan Islam sebagai ciptaan dari Yahudi dan Kristen.

2. Pendekatan fenomenologi dipandang positif dlam studi Al-Qur’an atas prinsip memahani Al-Qur’an menurut Islam itu sendiri. Tetapi kelemahan pendekatan ini karena memandang kebenaran itu ganda, sehingga dapat berkesimpulan bahwa semua agama atau kitab suci benar. Kami cenderung melihat fenomenologi lebih tepat diterapkan dalam studi interpretasi Islam dalam konteks sosio-kultural dalam bentuk iterpretasi kontekstual. Dalam membahas eksistensi Al-Qur’an kami tawarkan pendekatan realisme metafisik.

Setelah saya amati dan cermati dari beberapa referensi yang digunakan sebagai rujukan, ternyata banyak sekali keganjalan yang sebelumnya saya tidak tahu oleh karena itu mari kita pecahkan secara bersama-sama. Masih terdapat beberapa penjelasan di antaranya:

 

Mengkompromikan Islam dengan Peradaban Barat.

Muhammad Abduh berpandangan bahwa reformasi social seta pendidikan Islam merupakan jalan menuju reformasi pollitik seta pembebasan kaum muslimin dari cengkraman Barat. Sedangkan kita tau, bagaimana dia telah menganjurkan cara berfikir liberal yang tidak akan menghormati pendapat dan tidak akan berhenti pada tatanan, yang bisa dikhawatirkan akan menimbulkan kegelisahan. Sesuatu yang menjadiannya melawan potensi akal (reason) dan melampaui batas reformasinya. Kita juga telah menyaksikan sendiri, bagaimana para delegasi tersebut di bawa ke Barat, Baik dari Mesir maupun yang lain, untuk membawa pemikiran-pemikiran Barat, paradigma-paradigma berfikir dan nilali-nilainya, seperti liberalism, tanah air, liberalisasi kaum hawa dan sebagainya. Mereka menyampaian semuanya dalam pendidikan Islam yang membawa permusuhan laten dan mendarah-daging kepada arang serta pemikiran-pemikirannya sejak berabad-abad silam. Permusuhan tersebut, intinya telah memuncak pada masa perang salib, sehingga berlanjut pada abad ke-19 dan awal abad ke 20. Memang benih-benih westernisai dalam pendidikan islam ini belum pernah tumbuh, kecuali seelah variable-variabel yang menumbuhsuburkannya ada.

Barat salibis yang kafir itu, ketika menyerang negeri kaum muslimin dlaam Perang Salib, mereka menyerang dengan buas dan ganas. Karenanya seterlah itu, kaum muslimin tidak lagi tersisa, ketika mereka berhasil menguasai neeri Syam. Memang benar, bahwa kaum Salibislah yang telah mengambil keuntungan dari kaum muslimin di bidang kemajuan sains dari teknologi. Ini merupakan masalah yang tidak perlu banyak bukti dengan penakuan dari para orientalis dan para penulis Barat. Keadaan yang terjadi para paroh kedua abad ke-19 dari awak abaad ke-20 ini berbeda dengan gelombang serangan yang pertama. Sebab, Barat sudah menyaksikan kebangkitan dan kemajuan sains, teknologi serta industrialisasi sejak abad ke-18. Maka, pada saat Mesir dan negeri Islam yang lain berhasil dicaplok. Kaum muslimin atau di antara kaum muslimin yang telah mabuk dengan tsaqofah Barat mengira bahwa kemajuan sains dan industry di Barat itu harus disetai dengan kemajuan dan kebangkitan berfikir. Pandangan semacam ini telah membuka peluang bagi benih-benih westernisasi ini menjadi beberapa variable yang menentukan pertumbuhannya.

Para pemikir Barat dan tokoh-tokohnya, berpandangan bahwa agar mereka mampu menjamin imperialisasi dan pencapllokan mereka terhadap mereka dengan kaum muslimin harus dihilangkan, sehingga harus ada gerakan kompromis yang dibentuk berasal dari solusi dan hukum-hukum kapitalis, seakan berasal dari Islam. Maka, Muhammad Abduh di Mesir yang ketika itu berada dalam cengkraman Inggris. Ahmad Khan di India dengan sivilisasi Barat untuk merusak pikiran kaum muslimin setelah runtunya Negara Islam Mongol di India. Ahmad Khan berusha memberikan loyalitasnya kepada penguasa Inggris dengan alas an demi pendidikan Islam, lalu membina satu generasi dari kalangan pemuda India untuk bahu membahu dengan imperialism dengan mengatasnamakan kemajuan Islam. Dalam hal ini, dia tidak berbeda jauh dengan gerakan As-Syeikh uhammad Abduh.

Yang ikut membantu gerakan kompromis ini tetap eksis, padahal banyak kalangan ulama kaum muslimin Mesir dan India mengetahui bahayanya, dimana mereka pun sebentanya bias menentangnya, adalah adanya generasi ummat Islam yang tidak pernah menerima pemikiran-pemikiran Islam sedikitpun dari generasi pendahulunya. Juga pemikiran-pemikiran non Islam, dengan begitu sudah pasti generasi ini tidak pernah menerima metodologi berfikir yang inovatif. Akhirnya dia hanya mewarisi pemikiran-pemikiran Islam sebagai filsafat yang utofis secara mutlak, seperti halnya kini orang-orang Yunani telah mewarisi filsafat Aristoteles dan Plato. Islam akhirnya hanya diwarisi sebatas ritualitas dan sisssmbol keberagamaan. Sebagiamana orang-orang Nasrani mewarisi agama Nasraninya. Maka, generasi itu pada saat yang sam telah terpesona dengan pemikiran-pemikiran kapitalis, semata karena menyaksikan keberhsilannya, bukan karena memahami betul realitas pemikirannya. Juga karena ketundukan dia untuk menerapkan hukum-hukumnya atas diri meraka, bukan karena memahani betul proses penggalian solusi-solusinya dari pandangan hidup Kapitalis tersebut.

Dengan begitu ia tetap jauh dari pemikiran-pemikiran kapitalis dari segi paradigma berfikirnya, meskipun dia telah membenamkan seluruh hidupnya dengan mengikuti metodologi kapitalis. Bahkan jelas lebih jauh lagi dari pemikiran-pemikiran islam secara empiris(rill), meski dia telah memeluk Islam sebagai agama serta mengkaji pemikiran-pemikiranya.

Gerakan kompromis Muhammad Abduh ini tetap bias eksis karana tidak bertentangan dengan islam dan tidak ada nash yang melarangnya, maka boleh diambil. Ini merupakan ide yang batik dari segi basic-nya. Dengan menganalisa dalil secara detail, kan tampak bahwa mengambil hukum apapun selain hukum yang telah dibawa oleh syari’at Islam sama dengan mengambil hukum kufur. Sebab esensinya telah mengambil selain apa yang telah diturunkan oleh Allah. Dimana Allah SWT. Telah melarang untuk mengambil hukum syara’.

Disamping larangan ini, semisal firman-Nya: Fa Laa Warbbika Laa Yu’minuuna Hattaa Yuhakkimuuka Fiima Syajara Bainahum (maka demi Tuhanmu, mereka sama sekali tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu sebagai pemutus hukum atas perkara yang mereka sengketakan)(Q.S An-Nisa’: 65), juga sabda RAsulullah SAW: Kullu ‘Amamlin Laisa ‘Alaihi Amrunaa Fahuwa RAddun (Tiap perbuatan yang tidak sesuai dengan perintahku, maka pebuatan itu tertoalk), Allah sesunggunya juga telah dengan tegas melarang mengambil hukum yang idak diturunkan-Nya. Dia berfirman kepada RAsulullah SAW: Wa Anihkum Bainahum Bimaa Anzala Allahu ( dan hendaknya kamu terapkan hukum di antara mereka berdasarkan apa yang telah diturunkan oleh Allah) ( Q>S. Al-Maidah: 49). Sesuatu yang sudah jelas, adlah bahwa hukum-hukum Islam dan solusi-solusinya dibangun berdasarkan paradigm berfikir (qaidah fikriyah) yang bertumpu pada keimanan pada Allah,malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari Kiamat seta Qadla’ dan Qadar, baik dan buruknya semata dari Allah.

Sedangkan system kapitalis dibangun berdasarkan paradigm berfikir yang merupakan akibat dari dikotomi agama dengan kehidupan, setelah terjadinya konflik yang meruncing antara agamawan di Eropa, yang dimotori oleh para pendeta, dengan para pemikir dan penguasa.

Adapun pemikir Maxisme-Leninisme dibangun berdasarkan paradigma berfikir yang menyatakan bahwa alam adalah materi yang dengan sendirinya mengalami siklus. Kehidupan juga merupakan materi masing-masing system ini dibangun berdasarkan paradigm berfikir tertentu. Dengan memperhatikan bahwa karena paradigm berfikir Islam tersebut berbeda dengan dua paradigm berfikir , kapitalisme dan sosialisme, maka tentu saja system islam akan berbeda secara diametral dengan system kapitalis dan sosialis. Meski ada beberapa hukum Islam menyerupai system kapitalis semisal diperbolehkannya privat propherty, juga ada kesamaan dengan collective propherty, namun masing-masing mempunyai urgensi bagi komunitas dalam Islam serta ada kesamaan dengan diabaikannya privat propherty pada tataran sosialisme. Akan tetapi, Islam bukan demokrasi, kapitalis maupun sosialis.

Saya sekarang ingin memaparkan aspek-aspek kompromis antara Islam dengan sivilisasi Barat, hukum-hukum serta solusi Barat, apa yang dilakukan oleh Muhammad Abduh, yang pertama, dalam rangka membantu tujuan-tujuan Free Masonry, yang antara lain tujuan mulinya adlah memasarkan sekularisme dan menghancurkan setiap system yang masih orisinil. Serta untuk membantu Inggris, yang di wakili oleh Lord Cromer, teman karab Muhammad Abduh , juga orang yang menjadi pelindung kepentingan-kepentingan Abduh.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s